HARIANEKSPOSLAMPUNG.COM,TANGGAMUS – Genap satu tahun menakhodai Kabupaten Tanggamus, kepemimpinan pasangan Moh. Saleh Asnawi dan Agus Suranto kini berada di bawah sorotan tajam. Meski geliat infrastruktur mulai tampak, sejumlah pihak menilai ritme pemerintahan masih berjalan lamban dan belum menghadirkan lompatan kebijakan yang menyentuh akar rumput
Aktivis kebijakan publik, Mareski, melontarkan kritik terbuka terkait arah orientasi pemerintah daerah saat ini. Ia menengarai energi pemerintahan lebih banyak tersedot pada dinamika politik internal dibandingkan konsolidasi kerja substansial
“Kita menyaksikan kecenderungan ‘politik di dalam politik’. Terlalu banyak manuver, terlalu sedikit eksekusi. Janji kampanye di sektor pendidikan, ekonomi rakyat, hingga kesejahteraan sosial kini nyaris tak terdengar gaungnya,” ujar Mareski
Sektor infrastruktur dasar, terutama persoalan jalan rusak yang menahun, menjadi poin utama yang dikritisi Menurut Mareski, keluhan masyarakat adalah fakta konkret yang menghambat distribusi barang serta akses kesehatan dan pendidikan
Ia juga menyoroti lemahnya inovasi dalam mengelola Pendapatan Asli Daerah (PAD)
“Pemerintah daerah harus berani keluar dari pola rutin. Tanpa terobosan fiskal dan transparansi anggaran, pembangunan hanya akan jalan di tempat dan terus bergantung pada transfer pusat,” tambahnya
Senada dengan Mareski, tokoh pemuda yang merupakan putra daerah, Noviyanto, menegaskan bahwa legitimasi bupati berasal dari rakyat, bukan sekadar partai pengusung Ia mengingatkan agar kepala daerah tidak terjebak pada pemenuhan janji politik kepada kelompok tertentu, melainkan fokus pada janji kampanye kepada masyarakat
"Publik menunggu bukti, bukan strategi,Yang dibutuhkan adalah keberanian bekerja, bukan sekadar menjaga citra," tegas Noviyanto
Ia juga menyoroti efektivitas anggaran tahun 2025 yang dinilai besar namun belum memberikan dampak signifikan bagi pelayanan publik dan kesehatan. Noviyanto mempertanyakan kemampuan manajerial bupati terhadap jajaran birokrasi di bawahnya
"Apakah bupati mampu memanagerial bawahannya ke depan, atau justru Sekda dengan kelompok ASN-nya bermain sendiri demi keuntungan pribadi? Ini yang harus diawasi," pungkasnya(red)